I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [5]

1 lalu diturunkanlah pelangi tujuh warna.
Guntur pun sahut-menyahut,
sahut-menyahut guntur dan kilat.
Turun pulalah Ruma Makompong, Rukkelleng Mpoba,
5 didahului Balassa Riuq,
dielu-elukan nian Rukkelleng Mpoba oleh guntur bersahutan.
Sekejap mata tibalah ia di Toddang Toja.
Tampaklah oleh mereka di istana sao Selliq yang gemerlap.
Dengan segera Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong,
10 Sangiang Pajung, Balassa Riuq
menginjakkan kaki pada tangga guntur keemasan
menyampaikan kedua belah tangan pada susuran kilat,
lalu melangkahi ambang dari petir,
menginjak lantai, terus ke dalam.
15 Kebetulan sekali
duduk berdampingan Sinaung Toja suami-istri
di atas pelaminan istananya.
Maka sujudlah menyembah lalu duduk
Ruma Makompong dan Sangiang Pajung
20 di depan pelaminan istana
tempat duduk Sinaung Toja.
Bersamaan dua berkata
pemilik istana sao Selliq yang gemerlap, suami-istri,
“Aku menyambutmu, Rukkelleng Mpoba,
25 aku menyapamu pula dengan pertanyaan Ruma Makompong.
Apa gerangan yang disuruhkan saudaraku kepadamu?
Sudah inginkah ia mencarikan jodoh Batara Guru
di luar langit?”
Sujud menyembah sambil berkata
30 Rukkelleng Mpoba dan Ruma Makompong,
“Kutadahkan kedua telapak tanganku,
bak kulit bawang tenggorokanku,
semoga tak kualat hamba menjawab perkataan Tuanku.
Kakanda Tuanku menghendaki
35 kiranya Tuanku suami-istri naik ke Boting Langiq
bersama dengan Tuanku
yang berkuasa di Pérétiwi.
Kumpulkan juga seluruh
daerah takluk Tuanku di setara bumi,
40 penguasa taklukan Tuanku di Pérétiwi
berdarah emas murni di Toddang Toja,

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。