I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [9]

1 yang senantiasa menghardik
Riuq Teppongeng dari tengah laut.
Saat itu bangkitlah Guru ri Selleng
mengenakan pakaian dari Toddang Toja,
5 kain bersuji benang emas dari Abang Letté
disemati emas urai yang murni.
Tidak ada yang dicari, tak ada yang tak dipunyai ragam warnanya
memakai ikat pinggang guntur,
keris emas buatan Mata Soloq yang telah diubah,
10 ikat kepala dari Busa Émpong orang Toddang Toja
bertepikan emas urai kuning berkilauan dari Abang
dihamburi bunga matahari kekuning-kuningan
demikian lengkapnya pakaian Guru ri Selleng.
Bangkit pula Sinaung Toja
15 berkemas mengenakan pakaian
sarung bersulam bak kembang waru
dengan baju sutera merah bersuji
berpinggirkan emas urai dari Toddang Toja,
bertaburkan kembang matahari dari Léténg Riuq,
20 gelang emas enam puluh lima buah sebelah-menyebelah
berbataskan gelang bepermata,
cincin besar lagi berat berbentuk mayang,
hiasan kuku bagaikan dedaunan.
Lengkaplah sudah pakaian Guru ri Selleng suami-istri.
25 Lalu duduk di atas peterana istana
bertindih paha suami-istri
mengepulkan asap pedupaannya, menurunkan badai,
menyalakan kilat, guntur bersahut-sahutan,
menaikkan air pasang, mengadu ombak.
30 Berangkatlah penguasa telaga
mengendarai kabut melangkahi mega beriring,
ditadah kabut dan hujan,
didahului cahaya kilat,
maka sampailah mereka di Boting Langiq
35 dibukakan pintu halilintar
penutup langit.
Maka sampailah di samping istana di Léténg Riuq.
Kebetulan sekali kemanakannya
berada di pebukitan menyabung petir
40 mengadu kilat menyorong total,
menyalakan api dewata.
Menyembah Balassa Riuq sambil berkata,

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。