I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [15]

1 yang diduduki Palanroé.
Menyembah lalu berkata Wé Ati Langiq,
“Tampaknya seperti, Paduka Tuanku, yang ada di bawah sana
Paduka yang dipertuan di Toddang Toja
5 tak diperkenankan memasuki pagar halilintar bersama rombongan.”
Bagaikan orang yang menikmati madu
rasa hatinya Patotoqé suami-istri
mendengar ucapan I Ati Langiq.
Berkata To Palanroé,
10 “Bangkitlah kalian, para bangsawan Abang,
sama membawa talam emas
penuh berisi bertih keemasan
kauiringi kemari tuanmu
naik ke istana.”
15 Belum selesai ucapan Patotoqé suami-istri,
serentak semua berangkat
bangsawan orang Abang
yang bertindak sebagai dayang-dayang
di istana sao kuta pareppaqé, ribuan banyaknya
20 sama menadah talam emas
penuh berisi bertih keemasan.
Sujud menyembah seraya berkata
bangsawan dari Abang,
“Kutadahkan tapak tanganku,
25 bak kulit bawang tenggorokanku,
semoga tak terkutuk hamba menjawab perkataan Tuanku.
Kakanda Tuanku Patotoqé suami-istri menghendaki
agar Tuanku naik ke istana sao kuta pareppaqé.”
Dengan malas Sinaung Toja membuka mulut
30 lalu ia berkata,
“Perbuatan apa gerangan yang dilakukan orang Sunra padaku?
Menyerbu semua penjaga
pagar petir halilintar
tak memperkenankan orang banyak memasuki pagar halilintar.
35 Sedari tadi seharusnya daku beristirahat,
di balairung saudaraku.” Berpaling bangsawan orang Abang
menunjuki penjaga pagar istana petir
serentak keduanya berkata,
40 “Angkuh benar engkau, I La Sualang,
lancang mulutmu penjaga
pagar istana halilintar,
tak perkenankan mereka memasuki pagar istana halilintar
pengikut Sri Paduka.
45 Bersedialah engkau dihukum di bawah pohon asam.

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。