I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [14]

1 penguasa Pérétiwi bersama rombongannya.
Menyerbu semua burung hantu, setan,
bersama bangkit ular berbisa,
lipan raksasa dan ular sawah,
5 penjaga istana sao kuta
kediaman Patotoqé.
Maka ributlah burung hantu, burung cabak,
melihat ada orang bukan penghuni langit.
Bagaikan awan berarak saja
10 wajah Sinaung Toja
tampil ke depan menunjuki dengan jari tangannya Paddengngeng.
Meludah sembari ia berkata
yang dipertuan di Toddang Toja,
“Lancang benar kalian orang Sunra,
15 tiada sopan tuturmu I La Sualang,
engkau tidak perkenankan rombonganku
memasuki pagar halilintar,
masih jelas satu keturunan denganku Patotoqé.
Seorang tinggal di Boting Langiq
20 berkuasa di Rualletté.
Seorang turun ke Toddang Toja
menjadi raja di Pérétiwi,
bersaudara Guru ri Selleng
dengan Datu Palingéq di Senrijawa,
25 bersepupu sekali yang kaupertuan
penguasa di Pérétiwi,
kalian lancang tak memperkenankan rombonganku
memasuki pagar istana petir.”
Gemetar sekujur badan orang Sunra,
30 Paddengngeng, Pérésola,
To Alebboreng, Pulakali.
Semua undur berjongkok.
Bak orang yang tersihir saja
penjaga pagar istana halilintar itu,
35 serentak mereka berkata,
“Tuan kita rupanya, tidak kita ketahui
ia yang berkuasa di Pérétiwi,
kita mau berselancang
tak membiarkan mereka memasuki pagar istana halilintar.”
40 Kebetulan sekali
Wé Ati Langiq membuka jendela kilat sambil menjenguk.
Tampak olehnya penguasa telaga bersama rombongan
tak diperkenankan memasuki pagar halilintar.
Maka bangkitlah Wé Ati Langiq
45 masuk langsung duduk
di depan peterana nan gumawan

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [13]

1 “Bagaimanalah daku akan singgah bermalam, ananda,
sebab tergesa-gesa keberangkatanku,
sudah lewat pula hari yang ditentukan oleh orang tuamu.”
Maka berangkat lagi Opu Samudda bersama rombongan,
5 dibukakan penutup langit
tiba di wilayah Wawo Unruq.
Kebetulan sekali kemanakannya
sedang keluar ke gelanggang
mengumpulkan para pengawal andalannya.
10 Menyembah sambil berkata La Rumpang Mégga,
“Kur semangatmu, Paduka Raja nan agung,
singgahlah kemari di wilayahmu
istirahat di istanamu
bersantap aneka makanan orang Rualletté
15 yang tak dipanggang di atas api,
nanti setelah terbit matahari
kita beriring naik ke Rualletté.”
Serentak keduanya berkata
Opu Samudda suami-istri,
20 “Tak enak perasaanku
untuk bersantap di wilayahmu,
sebab tergesa-gesa keberangkatanku.
Nanti bila aku di istananya
Batara Wira yang memperanakkanmu,
25 Batara Déwi yang melahirkanmu
akan kumakan aneka makanan orang Senrijawa.”
Berangkat lagi penguasa telaga
tiba dibukakan pintu langit,
sampai memasuk wilayah Rualletté.
30 Dilihatnyalah istana sao kuta pareppaqé
istana sempurna kediaman saudaranya.
Maka gembiralah Sri Paduka
memasuki batas wilayah
pagar halilintar bersama rombongan.
35 Maka serempak bangkit Paddengngengngé, Pérésolaé,
To Alebboreng, Pulakalié,
I La Sualang, I La Bécociq,
penjaga pagar guruh
istana petir kediaman Patotoqé
40 sama menghambat, tiada memperkenankan
memasuki pagar istana petir

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [12]

1 menyabung ayam kebesaran andalannya.
Menyembah I La Sangiang, katanya,
“Singgahlah, Paduka Tuanku,
makan siang di wilayahmu.
5 Nanti kita seiring berangkat ke Boting Langiq,
sebab kami pun mendapat panggilan.”
Serentak keduanya berkata
Opu Samudda suami-istri,
”Bagaimanalah daku, ananda,
10 singgah bersantap di wilayahmu,
sedangkan masih jauh nian Rualletté,
sudah lewat pula hari yang ditetapkan oleh orang tuamu.”
Berangkat lagi Sinaung Toja bersama rombongan,
tiba dibukakan pintu batara
15 di wilayah Senrijawa.
Kebetulan sekali kemanakannya
sedang keluar berkeliling membangun wilayah.
Menyembah sambil berkata Aji Pawéwang,
“Singgahlah, Paduka Tuanku, bersantap siang.
20 Nanti kita seiring berangkat ke Rualletté,
sebab kami pun mendapat panggilan.”
Serentak keduanya berkata,
Guru ri Selleng suami-istri,
“Bagaimanalah daku, ananda,
25 akan singgah bersantap di wilayahmu,
sedangkan masih jauh nian Rualletté,
dan telah lewat pula hari yang ditetapkan oleh orang tuamu.”
Berangkat lagi penguasa telaga bersama rombongan,
dielu-elukan guntur sahut-menyahut.
30 Tiba pula ia dibukakan pintu batara
di wilayah Limpo Majang.
Kebetulan sekali kemanakannya
sedang keluar ke padang menyebar bintang
mengatur perbintangan.
35 Menyembah berkata Sangiang Kapang,
“Kemarilah, Paduka Tuanku,
singgah bermalam di balairungmu,
nanti kita seiring berangkat ke Rualletté,
sebab kami pun mendapat panggilan.”
40 Serentak keduanya berkata, penguasa telaga suami-istri,

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [11]

1 sedangkan masih jauh nian Boting Langiq
telah kulampaui pula hari yang ditentukan oleh orang tuamu.”
Berangkat pula penguasa telaga bersama rombongan.
Sampai lagi dibukakan pintu langit,
5 maka sampai pula ia di wilayah Langku-Langku.
Kebetulan sekali kemanakannya,
sedang keluar berkeliling membangun wilayah.
Menyembah Aji Pawéwang, katanya,
“Singgahlah, Paduka Tuanku,
10 di wilayahmu bersantap.
Nanti kita seiring berangkat ke Rualletté.”
Menjawab Guru ri Selleng suami-istri,
“Bagaimanalah aku anakanda akan singgah bersantap di wilayahmu,
masih jauh nian Boting Langiq,
15 sedangkan sudah lewat hari yang ditetapkan oleh orang tuamu.”
Berangkat lagi penguasa telaga
mengendarai awan ditandu oleh Sangiang Pajung.
Sampai lagi ia dibukakan pintu langit,
memasuki wilayah Mallagenni.
20 Kebetulan sekali kemanakannya
sedang keluar mengatur perbintangan.
Menyembah sambil berkata Aji Tellino,
“Singgahlah, Paduka Tuanku,
bersantap siang di wilayahmu.
25 Nanti kita seiring berangkat ke Boting Langiq,
sebab kami pun mendapat panggilan semua.”
Menjawab Sinaung Toja suami-istri,
“Bagaimanalah, Paduka Ananda,
daku akan singgah bersantap di wilayahmu,
30 masih jauh nian Boting Langiq,
sedangkan sudah lewat pula hari yang ditentukan oleh orang tuamu.”
Berangkat lagi penguasa telaga beserta rombongan,
mengendarai awan melangkahi mega berjejer.
Sampai pula dibukakan pintu langit,
35 masuk ke wilayah Mallimongeng.
Kebetulan sekali
sedang keluar kemanakannya ke pohon asam bersama rombongan

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [10]

1 “Mampirlah kemari, Tuanku,
makan siang di balairungmu
nanti kita beriring jalan naik ke Boting Langiq,
sebab kami pun mendapat panggilan.”
5 Menjawab Sinaung Toja,
“Kur jiwamu, Paduka Anakanda.
Aku tidak singgah makan siang di istanamu
karena masih jauh nian Rualletté,
telah tiba pula hari yang ditetapkan oleh orang tuamu.”
10 Naik pula saat itu penguasa telaga beserta rombongan
mengendarai awan ditandu oleh Sangiang Pajung.
Dibukakan pintu batara.
Kemudian sampailah pula ia di wilayah Mallagenni.
Kebetulan sekali kemanakannya
15 sedang keluar mengolah gunung besi.
Menyembah sambil berkata Aji Tellino,
“Singgahlah, Paduka Tuanku,
makan siang di wilayahmu.
Nanti kita seiring berangkat ke Boting Langiq
20 sebab kami pun mendapat panggilan.”
Berkata Sinaung Toja,
“Bagaimanalah, ananda, daku akan
singgah bersantap siang di istanamu,
sebab masih jauh nian Boting Langiq
25 sedang telah tiba pula hari yang ditetapkan oleh orang tuamu.”
Berangkat pula penguasa telaga
mengendarai awan melangkahi mega beriring,
dibukakan palang pintu langit,
tiba di daerah Mallimongeng.
30 Kebetulan sekali kemanakannya
sedang turun ke bawah pohon asam
menyabung ayam andalannya bersama para juaknya.
Menyembah sambil berkata I La Sangiang,
“Singgahlah ke sini, Paduka Tuanku,
35 bersantap siang di wilayahmu.
Kelak kita berangkat seiring ke Boting Langiq,
sebab kami pun mendapat panggilan.”
Menjawab Guru ri Selleng,
“Bagaimanalah, Paduka Ananda,
40 aku akan singgah bersantap siang di istanamu,

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [9]

1 yang senantiasa menghardik
Riuq Teppongeng dari tengah laut.
Saat itu bangkitlah Guru ri Selleng
mengenakan pakaian dari Toddang Toja,
5 kain bersuji benang emas dari Abang Letté
disemati emas urai yang murni.
Tidak ada yang dicari, tak ada yang tak dipunyai ragam warnanya
memakai ikat pinggang guntur,
keris emas buatan Mata Soloq yang telah diubah,
10 ikat kepala dari Busa Émpong orang Toddang Toja
bertepikan emas urai kuning berkilauan dari Abang
dihamburi bunga matahari kekuning-kuningan
demikian lengkapnya pakaian Guru ri Selleng.
Bangkit pula Sinaung Toja
15 berkemas mengenakan pakaian
sarung bersulam bak kembang waru
dengan baju sutera merah bersuji
berpinggirkan emas urai dari Toddang Toja,
bertaburkan kembang matahari dari Léténg Riuq,
20 gelang emas enam puluh lima buah sebelah-menyebelah
berbataskan gelang bepermata,
cincin besar lagi berat berbentuk mayang,
hiasan kuku bagaikan dedaunan.
Lengkaplah sudah pakaian Guru ri Selleng suami-istri.
25 Lalu duduk di atas peterana istana
bertindih paha suami-istri
mengepulkan asap pedupaannya, menurunkan badai,
menyalakan kilat, guntur bersahut-sahutan,
menaikkan air pasang, mengadu ombak.
30 Berangkatlah penguasa telaga
mengendarai kabut melangkahi mega beriring,
ditadah kabut dan hujan,
didahului cahaya kilat,
maka sampailah mereka di Boting Langiq
35 dibukakan pintu halilintar
penutup langit.
Maka sampailah di samping istana di Léténg Riuq.
Kebetulan sekali kemanakannya
berada di pebukitan menyabung petir
40 mengadu kilat menyorong total,
menyalakan api dewata.
Menyembah Balassa Riuq sambil berkata,

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [8]

1 yang memerintah di Toddang Toja.”
Tatkala tiba hari yang ditetapkan oleh Patotoqé
maka datang pulalah berhimpun
penduduk Boting Langiq.
5 Demikian pula di sebelah timur
usungan guruh kendaraan
Sangka Maléwa suami-istri.
Bagaikan bara api yang diaduk
payung bintang yang menaunginya.
10 Lebih tujuh ribu orang serombongan.
Telah muncul pula di sebelah selatan
usungan cahaya yang dikendarai
Sinrang Mpatara suami-istri.
Bagaikan bara api yang diaduk
15 payung bintang yang menaunginya.
Lebih tiga juta orang serombongan
memekakkan suara teriakan pengikutnya.
Telah muncul pula usungan guruh di sebelah barat
kendaraan Sennéq Batara, datang berpesta.
20 Bagaikan bara api yang berhamburan
payung bintang yang menaunginya.
Lebih tujuh ribu orang serombongan.
Memekakkan gelak tawanya membatu roboh.
Bersamaan semua berjumpa di bawah pohon asam,
25 di gelanggang bintang belantik,
menghambur duduk berkumpul di dalam pagar
pengikut, yang beribu jumlah pengiringnya.
Bagaikan petir halilintar
suara teriakannya serombongan.
30 Tak disebutkan lagi gelak tawanya yang membatu roboh
datang berpesta Sennéq Batara berteman.
Saat itu berpaling Datu Palingéq
membuka jendela lalu menjenguk
memandang ke arah pohon asam bintang belantik.
35 Demikian kata Mutia Unruq,
“Agaknya telah datang semuanya di bawah
pada gelanggang halilintar, saudara kita,
sepupu sekali kita, kemanakan kita.
Tetapi belum datang juga sepupu sekali kita dari Pérétiwi,
40 saudara kita dari Toddang Toja.”
Sudah sampai pada hari yang ditetapkan oleh penguasa telaga.
Bersamaan semua datang berkumpul
daerah takluk andalan Guru ri Selleng.
Telah tiba pula La Bala Unynyiq serombongan

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [7]

1 terus naik di istana sao kuta pareppaqé.
Sujud menyembah lalu duduk di hadapan Patotoqé.
Serentak keduanya berkata
To Palanroé suami-istri,
5 “Kemana gerangan saudaraku,
Ruma Makompong, Rukkelleng Mpoba, raja Toddang Toja
tiada seiring bersama engkau?”
Menyembah Rukkelleng Mpoba sembari berkata,
“Kutadahkan kedua telapak tanganku,
10 bak kulit bawang tenggorokanku,
semoga hamba tak terkutuk menjawab perkataan Tuanku.
Paduka Adinda, Tuanku berkata
berangkatlah engkau lebih dahulu.
Aku akan berangkat nanti
15 pada saat bulan purnama raya.
Akan kudatangkan pula semua
daerah takluk andalanku di Uriq Liu,
raja taklukanku di Toddang Toja,
raja yang memerintah di Pérétiwi
20 aku akan beriringan semuanya nanti
datang ke Boting Langiq.”
Bagaikan orang yang sedang meneguk madu
rasa hatinya di dalam, Patotoqé suami-istri
mendengar ucapan
25 Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong.
Tiba pulalah semuanya
mereka yang disuruh pergi mengantar undangan.
Tiada henti-hentinya sang petugas berseru, katanya,
“Dengarkan hai sekalian
30 penduduk di Rualletté, di Wawo Langiq,
masyarakat di Boting Langiq, di Senrijawa.
Tak sepotong pun barang yang lewat di tenggorokannya
yang tidak mau datang ke Rualletté
di istana sao kuta pareppaqé.”
35 Serentak berkata penduduk negeri
di Boting Langiq dan di Abang Letté,
“Pekerjaan besar apa lagi gerangan
yang akan dilakukan To Palanroé
hingga kita diperintahkan berkumpul di Rualletté?”
40 Serentak sang petugas saat itu berseru, katanya,
“Tujuh malam lagi, wahai orang banyak,
kalian harus datang ke istana di Rualletté.
Jangan hendaknya kalian didahului oleh saudara Patotoqé

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [6]

1 bangsawan mulia para pengapit di Uriq Liu.
Ingin rupanya kakanda Tuanku
menempatkan tunas di Alé Lino
memantangkan kayu sengkona atas nama kita.
5 Katanya, Tuanku, bukanlah dewata
apabila tak seorang pun
menyeru tuan kepada Batara,
menadahkan tangan ke Pérétiwi.”
Serentak kedua suami-istri berkata
10 sang penguasa di Pérétiwi,
pemilik istana sao Selliq yang keemasan di Uriq Liu,
“Siapakah gerangan, Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong,
menurut perkiraanmu berani membantah
sekiranya Patotoqé menganggap baik untuk
15 menempatkan keturunan di Alé Lino?”
Menyembah sambil berkata Ruma Makompong,
“Bersabda pula kakanda Tuanku
beriringlah engkau kemari dengan adikku
naik ke Boting Langiq.
20 Hendaknya keberangkatannya kemari ke Boting Langiq
pada hari pasarnya Rualletté,
saat surya terang tiada padam di Senrijawa,
musim kemarau di Toddang Toja,
waktu tenteram di Léténg Riuq,
25 hari keberuntungannya di Pérétiwi.”
Serentak keduanya berkata
Guru ri Selleng suami-istri,
“Berangkatlah engkau lebih dahulu
Rukkelleng Mpoba dan Ruma Makompong.
30 Kemudian sajalah daku berangkat
pergi ke Boting Langiq.”
Memohon pamitlah Ruma Makompong,
mempersilakan pulalah Opu Samudda.
Maka berangkatlah utusan raja orang Abang itu
35 diantarkan guntur, diiringi kilat dan petir.
Matahari saat itu masih pada tempatnya
maka tibalah ia di Boting Langiq

I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [5]

1 lalu diturunkanlah pelangi tujuh warna.
Guntur pun sahut-menyahut,
sahut-menyahut guntur dan kilat.
Turun pulalah Ruma Makompong, Rukkelleng Mpoba,
5 didahului Balassa Riuq,
dielu-elukan nian Rukkelleng Mpoba oleh guntur bersahutan.
Sekejap mata tibalah ia di Toddang Toja.
Tampaklah oleh mereka di istana sao Selliq yang gemerlap.
Dengan segera Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong,
10 Sangiang Pajung, Balassa Riuq
menginjakkan kaki pada tangga guntur keemasan
menyampaikan kedua belah tangan pada susuran kilat,
lalu melangkahi ambang dari petir,
menginjak lantai, terus ke dalam.
15 Kebetulan sekali
duduk berdampingan Sinaung Toja suami-istri
di atas pelaminan istananya.
Maka sujudlah menyembah lalu duduk
Ruma Makompong dan Sangiang Pajung
20 di depan pelaminan istana
tempat duduk Sinaung Toja.
Bersamaan dua berkata
pemilik istana sao Selliq yang gemerlap, suami-istri,
“Aku menyambutmu, Rukkelleng Mpoba,
25 aku menyapamu pula dengan pertanyaan Ruma Makompong.
Apa gerangan yang disuruhkan saudaraku kepadamu?
Sudah inginkah ia mencarikan jodoh Batara Guru
di luar langit?”
Sujud menyembah sambil berkata
30 Rukkelleng Mpoba dan Ruma Makompong,
“Kutadahkan kedua telapak tanganku,
bak kulit bawang tenggorokanku,
semoga tak kualat hamba menjawab perkataan Tuanku.
Kakanda Tuanku menghendaki
35 kiranya Tuanku suami-istri naik ke Boting Langiq
bersama dengan Tuanku
yang berkuasa di Pérétiwi.
Kumpulkan juga seluruh
daerah takluk Tuanku di setara bumi,
40 penguasa taklukan Tuanku di Pérétiwi
berdarah emas murni di Toddang Toja,