I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [6]

1 bangsawan mulia para pengapit di Uriq Liu.
Ingin rupanya kakanda Tuanku
menempatkan tunas di Alé Lino
memantangkan kayu sengkona atas nama kita.
5 Katanya, Tuanku, bukanlah dewata
apabila tak seorang pun
menyeru tuan kepada Batara,
menadahkan tangan ke Pérétiwi.”
Serentak kedua suami-istri berkata
10 sang penguasa di Pérétiwi,
pemilik istana sao Selliq yang keemasan di Uriq Liu,
“Siapakah gerangan, Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong,
menurut perkiraanmu berani membantah
sekiranya Patotoqé menganggap baik untuk
15 menempatkan keturunan di Alé Lino?”
Menyembah sambil berkata Ruma Makompong,
“Bersabda pula kakanda Tuanku
beriringlah engkau kemari dengan adikku
naik ke Boting Langiq.
20 Hendaknya keberangkatannya kemari ke Boting Langiq
pada hari pasarnya Rualletté,
saat surya terang tiada padam di Senrijawa,
musim kemarau di Toddang Toja,
waktu tenteram di Léténg Riuq,
25 hari keberuntungannya di Pérétiwi.”
Serentak keduanya berkata
Guru ri Selleng suami-istri,
“Berangkatlah engkau lebih dahulu
Rukkelleng Mpoba dan Ruma Makompong.
30 Kemudian sajalah daku berangkat
pergi ke Boting Langiq.”
Memohon pamitlah Ruma Makompong,
mempersilakan pulalah Opu Samudda.
Maka berangkatlah utusan raja orang Abang itu
35 diantarkan guntur, diiringi kilat dan petir.
Matahari saat itu masih pada tempatnya
maka tibalah ia di Boting Langiq

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。