I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [17]

1 Saling bersahutan penyeru semangat kehiyangannya
di atas peterana guruh.
Sembari menengadah berkata Patotoqé,
“Naiklah kemari Guru ri Selleng, To Akkarodda, Sinaung Toja,
5 kalian duduk di peterana guruh.”
Sinaung Toja pun naik duduk
di atas peterana gumawan
bertindih paha dengan To Palanroé.
Tengadah sembari berkata Mutia Unruq,
10 “Naiklah engkau kemari Guru ri Selleng
di peristirahatan bintang belantik
bertindih paha bersaudara.”
Tengadah sambil berkata Sangka Maléwa,
“Kemarilah, To Akkarodda,
15 di atas peterana petir.”
Maka naiklah duduk La Bala Unynyiq.
Berkata To Palanroé
serentak keduanya suami-istri berkata,
Datu Palingéq di Senrijawa,
20 “Adapun, Paduka Adinda,
kupanggil engkau naik ke langit,
kukumpulkan saudaraku
sepupu sekali, dan kemanakan kita
karena aku ingin menempatkan keturunan di bumi
25 dan diturunkan anak dewata ke permukaan,
memantangkan kayu sengkona atas nama kita.
Jangan dunia tetap kosong
terang tak berpelindung di kolong langit.
Kita bukanlah dewata, Adinda, kalau
30 tak ada orang menghuni dunia,
menyeru tuan kepada Batara,
menadahkan kedua tangan ke Pérétiwi.
Setelah sepakat kita bersaudara,
bersepupu sekali, sekemanakan,
35 baru kita sama menempatkan keturunan di bumi,
memantangkan kayu sengkona atas nama kita.
Jangan dunia tetap kosong
terang tak berpelindung di kolong langit,
di permukaan Pérétiwi.”
40 Serentak keduanya berkata
saudara To Palanroé dan kemanakannya,
“Apa masalahnya gerangan menempatkan keturunan, menurunkan anak?
Apakah ada yang berani membantahmu?
Bagiku sangatlah baik
45 menempatkan keturunan di kolong langit
menurunkan anak dewata menjelma.
Anak kakandalah seorang yang diturunkan,
sedang keturunan kami
mengapa tidak kakanda pertimbangkan nasibnya?”
50 Sangatlah senang hati La Patigana karena diturut

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。