I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [7]

1 terus naik di istana sao kuta pareppaqé.
Sujud menyembah lalu duduk di hadapan Patotoqé.
Serentak keduanya berkata
To Palanroé suami-istri,
5 “Kemana gerangan saudaraku,
Ruma Makompong, Rukkelleng Mpoba, raja Toddang Toja
tiada seiring bersama engkau?”
Menyembah Rukkelleng Mpoba sembari berkata,
“Kutadahkan kedua telapak tanganku,
10 bak kulit bawang tenggorokanku,
semoga hamba tak terkutuk menjawab perkataan Tuanku.
Paduka Adinda, Tuanku berkata
berangkatlah engkau lebih dahulu.
Aku akan berangkat nanti
15 pada saat bulan purnama raya.
Akan kudatangkan pula semua
daerah takluk andalanku di Uriq Liu,
raja taklukanku di Toddang Toja,
raja yang memerintah di Pérétiwi
20 aku akan beriringan semuanya nanti
datang ke Boting Langiq.”
Bagaikan orang yang sedang meneguk madu
rasa hatinya di dalam, Patotoqé suami-istri
mendengar ucapan
25 Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong.
Tiba pulalah semuanya
mereka yang disuruh pergi mengantar undangan.
Tiada henti-hentinya sang petugas berseru, katanya,
“Dengarkan hai sekalian
30 penduduk di Rualletté, di Wawo Langiq,
masyarakat di Boting Langiq, di Senrijawa.
Tak sepotong pun barang yang lewat di tenggorokannya
yang tidak mau datang ke Rualletté
di istana sao kuta pareppaqé.”
35 Serentak berkata penduduk negeri
di Boting Langiq dan di Abang Letté,
“Pekerjaan besar apa lagi gerangan
yang akan dilakukan To Palanroé
hingga kita diperintahkan berkumpul di Rualletté?”
40 Serentak sang petugas saat itu berseru, katanya,
“Tujuh malam lagi, wahai orang banyak,
kalian harus datang ke istana di Rualletté.
Jangan hendaknya kalian didahului oleh saudara Patotoqé

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。