I La Galigo: Menurut naskah NBG 188, Jilid 1 [1]

1 Baru saja matahari terbit di Boting Langiq,
keesokan paginya di Senrijawa,
jelas bersinar Sang Surya di Rualletté,
saat itu bangunlah To Palanroé,
5 dikuakkan kelambu keemasan
sinar petir yang meliputinya,
dibukakan kunci bilik guntur maka ia lewat,
terus ke depan berselimutkan sarung
yang tepinya bersujikan benang cahaya petir
10 melangkahi sekat guruh,
menyeruakkan pintu halilintar
tiba berjongkok di bangku kilat.
Duduk bersimpuh pada bantal seroja bintang belantik
membasuh muka pada mangkuk kilat berkuping
15 berkaca pada cermin kemilau,
ditayangkan sirih keemasan orang Senrijawa.
Seusai Patotoqé makan sirih,
saat itu berpalinglah La Patigana
membuka jendela keemasan lalu menjenguk
20 mengamati latihan perang-perangan antara La Tau Pancéq
dan La Tau Buleng di bawah pohon asam bintang belantik.
Tak satu pun tampak olehnya
penjaga ayam andalannya.
Saat itu bangkitlah Patotoqé
25 berselimutkan kain dari benang kilau kemilau,
dipapahkan cerana guruh tempat sirihnya.
Diusungkan ketur peludahan petirnya
tempat membuang sepah sirihnya
dijinjingkan cerek halilintar tempat air minumnya
30 langsung menuju pohon asam bintang belantik
lalu berdiri di gelanggang halilintar.
Dengan lemah lembut ia membuka mulutnya,
berkata To Palanroé,
“Mengapa, anak-anak, maka sunyi di bawah pohon asam,
35 Rukkelleng Mpoba, Ruma Makompong,
Sangiang Pajung, Balassa Riuq?”
Sujud menyembah sambil menjawab
para penjaga ayam nan beratus di Rualletté.
“Kutadahkan kedua tapak tanganku,
40 bak kulit bawang tenggorokanku,
semoga tak terkutuk hamba menjawab ucapan Tuanku.
Sudah tiga hari tiga malam, Tuanku,
tak satu pun nampak di Boting Langiq

コメントする

メールアドレスが公開されることはありません。